Ilustrasi: bola.net
Erick Thohir telah memegang saham klub
sepakbola Italia, Intermilan setelah sekian lama melakukkan perundingan
dengan pemilik lama klub Massimo Moratti. Pembelian klub besar luar
negeri dengan liga sepakbola yang cukup besar di dunia adalah sebuah
kebanggaan bagi Indonesia. Kesepakatan penjualan 70 persen saham klub itu dikabarkan bernilai 350 juta euro, atau hampir senilai 5,4 Triliun rupiah. Erick
membelinya bersama trio pengusaha Indonesia, Erick Thohir, Rosan
Roeslani dan Handy Soetedjo yang tergabung dalam International Sports
Capital.
Secara pribadi saya cukup bangga dengan
capaian anak bangsa yang mencatatkan namanya di kancah sepakbola
internasional. Akan tetapi ada sebuah ironi yang terjadi, Erick membeli
klub luar negeri dengan harga yang fantastis disaat kondisi sepakbola
dalam negeri sedang mengalami pasang surut baik di Timnas maupun klub
dalam negeri. Hal ini terlihat dari kondisi keuangan klub yang
memprihatinkan, seringnya terjadi penunggakan gaji pemain yang berimbas
pada aksi mogok latihan.
Dari hitung-hitungan yang dilansir oleh bola.net, seandainya Erick dan kawan-kawan menggunakan uangnya untk membenahi sepakbola dalam negeri, inilah yang terjadi:
1. 100 Musim ISL
PT Djarum, sponsor utama kompetisi Indonesia
Super League (ISL), mengeluarkan dana sedikitnya Rp 50 miliar untuk
musim 2012/13 yang baru berakhir. Dengan Rp 5,2 triliun, Erick Thohir dkk bisa menjadi sponsor utama ISL selama minimal 100 musim ke depan!
2. 1.000 Klub Indonesia
Dari 18 klub yang berlaga di ISL, selain
Persipura Jayapura yang didukung PT Freeport, Arema Indonesia dan Persib
Bandung merupakan dua nama dengan pendapatan sponsor terbesar.Untuk
memasang logo atau merek di bagian depan jersey klub Indonesia, harganya
bervariasi. Ambil contoh Arema. Mereka mematok Rp 5 miliar per
musim.Jadi, dengan Rp 5,2 triliun, Erick Thohir dkk bisa saja
mensponsori sekitar 1.000 klub Indonesia dalam satu musim kompetisi.
3. 10 Stadion Bertaraf Internasional
Membangun stadion bertaraf internasional butuh biaya besar.
Di Indonesia, kebanyakan stadion hanya sanggup menampung 15.000-20.000
penonton. Untuk mendirikan sebuah stadion yang memiliki kapasitas 40.000
orang semisal Gedebage (Bandung), dibutuhkan minimal Rp 500
miliar.Untuk 50.000-60.000 penonton seperti Palaran (Samarinda) atau
Jakabaring (Palembang), biayanya bisa mencapai sekitar Rp 800
miliar.Namun, dengan Rp 5,2 triliun, Indonesia bisa memiliki setidaknya
10 stadion bertaraf internasional di berbagai lokasi.
4. ‘Hidup’ Garuda Selama 28 Tahun
Prestasi hebat Timnas U-19 baru-baru ini telah membangkitkan kembali harapan dan kebanggaan masyarakat Indonesia.
Koordinator Timnas Bob Hippy pernah mengatakan pada tahun 2012 lalu
bahwa dibutuhkan dana sekitar Rp 360 miliar untuk membiaya ‘hidup’
timnas per dua tahun.Dana sebesar itu bukan hanya untuk satu tingkatan
umur, tapi seluruh jenjang yang ada, dari U-15, U-17, U-19, U-21, U-23
hingga level senior.Kalau dihitung secara kasar, dengan Rp 5,2 triliun,
maka ‘hidup’ seluruh skuat Garuda bakal terjamin selama 28 tahun!
Mengapa bukan Sepakbola Tanah Air?
Berikut saya ulas alasan mengapa Erick Thohir memilih klub luar negeri,
- Kondisi PSSI dan Politik
Akan tetapi Erick tentu bukanlah sekedar
hanya ingin mengembangkan sepakbola ia adalah seorang pebisnis, tentulah
memikirkan untung dan rugi atas pengeluaran yang dilakukannya. Berkaca
dari kondisi sepakbola dan politik tanah air, mungkin hal ini bisa juga
menjadi koreksi bagi PSSI dan pemerintah. Apa yang ada dalam pikiran
saya mengenai langkah Erick ini adalah sebuah kepercayaan. Bisa saja
Erick membeli salah satu klub sepakbola dalam negeri selain Intermilan,
saya yakin uang Erick bukan tidak cukup untuk itu. Bisa saja Erick
menggunakan sebagian uangnya untuk pengembangan sepakbola nasional.
Akan tetapi apakah kondisi sepakbola Indonesia yang sering tidak
kondusif bisa membuat Erick jatuh cinta? Nyatanya di Indonesia dana BLT
yang “hanya” 300 ribu saja menjadi sasaran korupsi bagi orang-orang yang
rakus uang. Dalam pertandingan terakhir timnas U-19 melawan Korea
Selatan saja sudah mulai dimanfaatkan dengan menggelar spanduk kuning di
stadion.
- Bisnis
Erick adalah pebisnis, saya sendiri merasa
bahwa pembelian klub Intermilan adalah murni karena dorongan bisnis.
Jika Erick menggunakan sahamnya di Indonesia, kapan uangnya akan kembali
kepadanya? Indonesia juga ladang koruptor, bisa-bisa Erick digerogoti
orang-orang yang suka mencari untung dalam segala hal di negeri ini.
Animo masyarakat dalam sepakbola juga tidak terlalu tinggi di Indonesia,
berapalah jumlah yang akan diperoleh Erick dari pembelian tiket
pertandingan atau penjualan kaos klub. Di Indonesia saja baju-baju bola
yang paling laris adalah baju klub luar negeri.
Apa dampaknya bagi sepakbola Indonesia?
Jika memang Erick Thohir mencintai sepakbola,
saya yakin dia juga akan mencintai sepakbola Indonesia. Dalam artian
bisa saja keberadaan Erick di Inter akan membuka kans pemain dalam
negeri untuk belajar di akademi sepakbola klub saudara AC Milan
tersebut. Artinya semakin terbuka jalan bagi bakat-bakat tanah air untuk
menimba ilmu dari pemain-pemain internasional. Membuka jalana jika ada
talenta dalam negeri yang benar-benar memiliki kapasitas untuk bermain
di liga Italia atau Eropa.
Bisa saja Erick membantu mengembangkan
sepakbola Indonesia walau tak harus membeli atau memodali klub atau
timnas dalam negeri dengan uang tunai. Tanpa harus mengabaikan sisi
bisnisnya bukan tidak mungkin Erick berkontribusi bagai Indonesia, bisa
saja lebih efektif ia membawa pemain berbakat Indonesia ke luar negeri
sehingga tidak ada kesempatan bagi orang-orang berkepentingan mengambil
untuk pribadi. Salam Sepakbola.